Jauh sebelum adanya proyektor film yang saat ini digunakan, terdapat proyektor kuno, atau lebih dikenal dengan nama “magic lantern”, yang dibuat oleh Jesuit Athanasius Kircher pada tahun 1671. Kircher menggunakan kaca yang digambar, yang diletakkan pada sebuah lampu minyak untuk diproyeksikan pada suatu layar. Proyektor ini hanya menghasilkan satu gambar diam.
Konsep awal dari proyektor film modern adalah ide tentang film atau gambar bergerak yang dapat diciptakan pada suatu layar, lalu kekuatan daya lihat mata manusia yang bisa bertahan untuk melihat gambar film sekitar 1-20 detik. Oleh karena itu, diciptakanlah alat optik yang bisa mengubah gambar bergerak menjadi gambar diam agar orang bisa berkonsentrasi melihat gambar pada film yang sedang diputar. Alat yang dinamakan Zoetrope tersebut ditemukan pada tahun 1834 oleh William George Horner. Zoetrope terdiri dari suatu kertas yang berisi rangkaian gambar-gambar yang diletakkan di dalam sebuah drum. Drum yang memiliki celah-celah kecil tersebut dapat menampilkan gambar dengan cara memutarnya.
Ada pula alat optik sederhana yang bernama praxinoscope, yang fungsinya hampir sama dengan Zoetrope. Alat ini merupakan sebuah drum dengan kaca di tengahnya, sehingga kita bisa melihat gambar film dari bagian atas drum. Gambar yang sama bisa terus dilihat karena terus berputar secara berulang.
Penemuan proyektor film lainnya adalah kinetoscope yang diciptakan oleh Thomas Edison pada tahun 1891. Alat ini menggunakan mesin untuk memutar bagian-bagian gambar dengan menyorotkan cahaya ke layar. Sejak itulah proyektor film mulai banyak dikembangkan.
Share To:

Unknown

Post A Comment:

0 comments so far,add yours