Magic lantern adalah mesin awal dari prototipe slide proyektor modern. Beberapa pihak mengklaim bahwa ide awal magic lantern berasal dari China pada abad ke-2. Pelansir dari fakta bahwa magic lantern telah ditemukan sejak masa itu adalah Jesuit Athanasius Kircher didalam bukunya Ars Magna Lucis et Umbrae, yang dipublikasikan sekitar tahun 1671.
Jesuit Athanasius Kircher menggambarkan peralatan yang menggunakan lampu minyak dan lensa, lalu memproyeksikan kaca yang bergambar ke layar yang telah disesuaikan dengan gambar. Berdasarkan penemuan awal ini, para ahli fisika memodifikasinya dengan menggunakan optik yang telah dikembangkan. Penyempurnaan dari alat ini dilakukan pada beberapa waktu selanjutnya.
Pada awalnya sistem optik yang diterapkan magic lentern masih sangat sederhana, dimana hanya memerlukan satu lensa yang terfokus pada jarak tertentu. Seiring dengan perkembangan lensa optik, maka penggunaan lensa optik pada magic lentern mampu menampilkan gambar yang lebih tajam dari pada sebelumnya.
Pada abad ke-19 beberapa kelompok penjual barang nomaden melakukan beberapa perdagangan, dengan beberapa penduduk dari daratan Inggris. Kaum nomaden ini terbiasa melakukan beberapa tampilan slideshows dengan menggunakan magic lantern, untuk menampilkan beberapa gambar kota di Eropa.
Setelah perkembangan penggunaan beberapa lensa yang diaplikasikan ke dalam magic lantern, maka tekhnologi ini berlanjut kepada aneka ragam proyektor hingga yang ada pada masa kini.
Beberapa jenis Magic lantern
Magic lantern mempunyai beberapa tipe, diantaranya berbahan besi, kayu dan jenis magic lentern yang mempunyai dua buah lampu atau disebut Bi-unial Lantern. Perbedaan penggunaan bahan dasar yang menjadikan mereka terbagi ke dalam klasifikasi baru dari magic lantern ini, dikembangkan diberbagai negara.
Hal ini dikarenakan bahan lokal yang tersedia dimasing-masing negara mempunyai nilai tersendiri. Bahan dasar besi menjadi tidak berarti banyak untuk sebagian penduduk negara. Sedangkan bahan dasar kayu sangat dihargai oleh penduduk negara tersebut.
Metal bodied lantern
Lentera jenis ini merupakan kelas terendah dari magic lantern. Umumnya lentera ini terbuat dari besi tipis yang melekat di seluruh badan lentera. Sedangkan untuk bahan lensa dari lentera jenis ini menggunakan bahan dasar kuningan. Lentera dengan rancangan seperti ini biasanya pada masa itu digunakan sebagai keperluan lentera rumah.
Penggunaan lampu minyak dalam lentera ini diikuti dengan cerobong asap untuk mengalirkan hawa panas lampu minyak ke atas. Cerobong asap yang ada pada lentera ini berbentuk lurus, dan merupakan penyempurnaan dari cerobong asap sebelumnya yang mengarahkan sinar lentera untuk tetap fokus.
Tipe termahal dan terbaik dari lentera jenis ini adalah lentera yang berasal dari Russia. Model ini bernama Russian iron. Untuk beberapa tipe tertentu yang berwarna abu–abu atau biru mempunyai ketahanan terhadap karat.
Lentera ini pada masanya dijual terpisah dari optik lensanya. Lensa ini sering kali merupakan produk yang tersendiri, dimana banyak produsen menaruh logo atau merek diatas benda ini.
Wooden bodied lanterns
Lentera jenis ini merupakan lentera termahal pada zaman Victoria. Adanya seni pahat yang fenomenal dan sangat bernilai, merupakan faktor pendongkrak harga dari lentera jenis ini.
Lentera ini biasanya terbuat dari bahan kayu berkualitas seperti kayu mahoni atau kayu sejenis pohon kenari yang telah dipoles sedemikian rupa. Ada beberapa jenis wooden bodied lanterns yang dibuat dengan artistik mempunyai lekukan cerobong yang banyak. Selain mempunyai nilai artistik yang tinggi, cerobong ini juga mampu meredam peningkatan hawa panas yang disebabkan oleh sumber cahaya dari lampu minyak.
Bi-unial lanterns  
Lentera ini lebih dikenal sebagai biunial lantern, dikarenakan mempunyai dua mekanisme kerja dalam satu kinerja (two in one mechanism). Instrument ini dapat menghadirkan efek khusus ke layar. Dengan piranti ini, gambar yang diproyeksikan mampu menghadirkan efek kejut (seperti keadaan siang hari dapat digantikan ke keadaan malam hari).
Lentera ini bukan hanya menyediakan dua mekanisme kerja dalam satu kesatuan kerja, melainkan juga dapat memberikan hasil gambar yang lebih kompleks. Umumnya untuk menghasilkan gambar yang lebih kompleks dibutuhkan kinerja yang lebih dari dua yaitu tiga mekanisme di dalam satu lentera (three in one lentern). 
Share To:

Unknown

Post A Comment:

0 comments so far,add yours